TAHLILAN (SELAMATAN KEMATIAN ) ADALAH BID’AH MUNKAR DENGAN IJMA’ PARA SHAHABAT DAN SELURUH ULAMA ISLAM

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

“Artinya : Dari Jarir bin Abdullah Al Bajaliy, ia berkata : ” Kami (yakni para shahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut madzhab kami para shahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini atau atsar di atas dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (No. 1612 dan ini adalah lafadzhnya) dan Imam Ahmad di musnadnya (2/204 dan riwayat yang kedua bersama tambahannya keduanya adalah dari riwayat beliau), dari jalan Ismail bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim dari Jarir sebagaimana tersebut di atas.

Saya berkata : Sanad Hadits ini shahih dan rawi-rawinya semuanya tsiqat (dapat dipercaya ) atas syarat Bukhari dan Muslim.

Dan hadits atau atsar ini telah dishahihkan oleh jama’ah para Ulama yakni para Ulama Islam telah ijma/sepakat tentang hadits atau atsar di atas dalam beberapa hal.

Pertama : Mereka ijma’ atas keshahihan hadits tersebut dan tidak ada seorang pun Ulama -sepanjang yang diketahui penulis- wallahu a’lam yang mendloifkan hadits ini. Dan ini disebabkan seluruh rawi yang ada di sanad hadits ini –sebagaimana saya katakan dimuka- tsiqoh dan termasuk rawi-rawi yang dipakai oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Kedua : Mereka ijma’ dalam menerima hadits atau atsar dari ijma’ para shahabat yang diterangkan oleh Jarir bin Abdullah. Yakni tidak ada seorangpun Ulama yang menolak atsar ini. Yang saya maksud dengan penerimaan (qobul) para Ulama ini ialah mereka menetapkan adanya ijma’ para shahabat dalam masalah ini dan tidak ada seorangpun di antara mereka yang menyalahinya.

Ketiga : Mereka ijma’ dalam mengamalkan hadits atau atsar diatas. Mereka dari zaman shahabat sampai zaman kita sekarang ini senantiasa melarang dan mengharamkan apa yang telah di ijma’kan oleh para shahabat yaitu berkumpul-kumpul ditempat atau rumah ahli mayit yang biasa kita kenal di negeri kita ini dengan nama ” Selamatan Kematian atau Tahlilan”.

LUGHOTUL HADITS
[1]. Kunnaa na’uddu/Kunna naroo = Kami memandang/menganggap.
Maknanya : Menurut madzhab kami para shahabat semuanya bahwa berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit dan membuatkan makanan termasuk dari bagian meratap.

Ini menunjukkan telah terjadi ijma’/kesepakatan para shahabat dalam masalah ini. Sedangkan ijma’ para shahabat menjadi dasar hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan Sunnah dengan kesepakatan para Ulama Islam seluruhnya.

[2]. Al-ijtimaa’a ila ahlil mayyiti wa shon’atath-tho’ami = Berkumpul-kumpul di tempat atau di rumah ahli mayit dan membuatkan makanan yang kemudian mereka makan bersama-sama

[3]. Ba’da dafnihi = Sesudah mayit itu ditanam/dikubur. Lafadz ini adalah tambahan dari riwayat Imam Ahmad.

Keterangan di atas tidak menunjukkan bolehnya makan-makan di rumah ahli mayit “sebelum dikubur”!?. Akan tetapi yang dimaksud ialah ingin menjelaskan kebiasaan yang terjadi mereka makan-makan di rumah ahli mayit sesudah mayit itu dikubur.

[4]. Minan niyaahati = Termasuk dari meratapi mayit
Ini menunjukkan bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit atau yang kita kenal di sini dengan nama “selamatan kematian/tahlilan” adalah hukumnya haram berdasarkan madzhab dan ijma’ para sahabat karena mereka telah memasukkan ke dalam bagian meratap sedangkan merapat adalah dosa besar.

SYARAH HADITS

Hadits ini atau atsar di atas memberikan hukum dan pelajaran yang tinggi kepada kita bahwa : Berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ (ini yang biasa terjadi) termasuk bid’ah munkar (haram hukumnya). Dan akan bertambah lagi bid’ahnya apabila di situ diadakan upacara yang biasa kita kenal di sini dengan nama “selamatan kematian/tahlilan pada hari pertama dan seterusnya”.

Hukum diatas berdasarkan ijma’ para shahabat yang telah memasukkan perbuatan tersebut kedalam bagian meratap. Sedangkan meratapi mayit hukumnya haram (dosa) bahkan dosa besar dan termasuk salah satu adat jahiliyyah.

FATWA PARA ULAMA ISLAM DAN IJMA’ MEREKA DALAM MASALAH INI
Apabil para shahabat telah ijma’ tentang sesuatu masalah seperti masalah yang sedang kita bahas ini, maka para tabi’in dan tabi’ut-tabi’in dan termasuk di dalamnya Imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad) dan seluruh Ulama Islam dari zaman ke zamanpun mengikuti ijma’nya para sahabat yaitu berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ adalah haram dan termasuk dari adat/kebiasaan jahiliyyah.

Oleh karena itu, agar supaya para pembaca yang terhormat mengetahui atas dasar ilmu dan hujjah yang kuat, maka di bawah ini saya turunkan sejumlah fatwa para Ulama Islam dan Ijma’ mereka dalam masalah “selamatan kematian”.

[1]. Telah berkata Imamnya para Ulama, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela Sunnah. Al-Imam Asy-Syafi’iy di ktabnya ‘Al-Um” (I/318).

“Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan”[1]

Perkataan imam kita diatas jelas sekali yang tidak bisa dita’wil atau ditafsirkan kepada arti dan makna lain kecuali bahwa beliau dengan tegas mengharamkan berkumpul-kumpul dirumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?”

[2]. Telah berkata Imam Ibnu Qudamah, di kitabnya Al Mughni (Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki ) :

“Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci ( haram ). Karena akan menambah kesusahan diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka [2] dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah.

Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya,.Apakah mayit kamu diratapi ?” Jawab Jarir, ” Tidak !” Umar bertanya lagi, ” Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, ” Ya !” Berkata Umar, ” Itulah ratapan !”

[3]. Telah berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, di kitabnya : Fathurrabbani tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal ( 8/95-96) :

“Telah sepakat imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zhahirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.

Dan diantara faedah hadits Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit dengan alasan ta’ziyah /melayat sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini.

Telah berkata An Nawawi rahimahullah : Adapun duduk-duduk (dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah telah dijelaskan oleh Imam Syafi’i dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya (perbuatan tersebut)……..

Kemudian Nawawi menjelaskan lagi, ” Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab : “Dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats (hal yang baru yang tidak ada keterangan dari Agama), sedang muhdats adalah ” Bid’ah.”

Kemudian Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna di akhir syarahnya atas hadits Jarir menegaskan : “Maka, apa yang biasa dikerjakan oleh kebanyakan orang sekarang ini yaitu berkumpul-kupmul (di tempat ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan mengadakan penyembelihan, menyediakan makanan, memasang tenda dan permadani dan lain-lain dari pemborosan harta yang banyak dalam seluruh urusan yang bid’ah ini mereka tidak maksudkan kecuali untuk bermegah-megah dan pamer supaya orang-orang memujinya bahwa si fulan telah mengerjakan ini dan itu dan menginfakkan hartanya untuk tahlilan bapak-nya. Semuanya itu adalah HARAM menyalahi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Salafush shalih dari para shahabat dan tabi’in dan tidak pernah diucapkan oleh seorangpun juga dari Imam-imam Agama (kita).

Kita memohon kepada Allah keselamatan !”

[4]. Al Imam An Nawawi, dikitabnya Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang bid’ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan dirumah ahli mayit dengan membawakan perkataan penulis kitab Asy -Syaamil dan lain-lain Ulama dan beliau menyetujuinya berdalil dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih. Dan hal inipun beliau tegaskan di kitab beliau “Raudlotuth Tholibin (2/145).

[5]. Telah berkata Al Imam Asy Syairoziy, dikitabnya Muhadzdzab yang kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab : “Tidak disukai /dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit) dengan alasan untuk Ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah ” Bid’ah “.

Dan Imam Nawawi menyetujuinya bahwa perbatan tersebut bid’ah. [Baca ; Al-Majmu’ syarah muhadzdzab juz. 5 halaman 305-306]

[6]. Al Imam Ibnul Humam Al Hanafi, di kitabnya Fathul Qadir (2/142) dengan tegas dan terang menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah ” Bid’ah Yang Jelek”. Beliau berdalil dengan hadits Jarir yang beliau katakan shahih.

[7]. Al Imam Ibnul Qayyim, di kitabnya Zaadul Ma’aad (I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul (dirumah ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah dan membacakan Qur’an untuk mayit adalah ” Bid’ah ” yang tidak ada petunjuknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

[8]. Al Imam Asy Syaukani, dikitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan bahwa hal tersebut Menyalahi Sunnah.

[9]. Berkata penulis kitab ‘Al-Fiqhul Islamiy” (2/549) : “Adapaun ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak maka hal tersebut dibenci dan Bid’ah yang tidak ada asalnya. Karena akan menambah musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka dan menyerupai (tasyabbuh) perbuatan orang-orang jahiliyyah”.

[10]. Al Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab : ” Dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit ) dan tidaklah mereka (ahli mayit ) membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.” [Masaa-il Imam Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal. 139]

[11]. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta’ziyah. Demikian menurut madzhab Ahmad dan lain-lain.” [Al Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal.93]

[12]. Berkata Al Imam Al Ghazali, dikitabnya Al Wajiz Fighi Al Imam Asy Syafi’i ( I/79), ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit.”

KESIMPULAN.

Pertama : Bahwa berkumpul-kumpul ditempat ahli mayit hukumnya adalah BID’AH dengan kesepakatan para Shahabat dan seluruh imam dan ulama’ termasuk didalamnya imam empat.

Kedua : Akan bertambah bid’ahnya apabila ahli mayit membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.

Ketiga : Akan lebih bertambah lagi bid’ahnya apabila disitu diadakan tahlilan pada hari pertama dan seterusnya.

Keempat : Perbuatan yang mulia dan terpuji menurut SUNNAH NABI Shallallahu ‘alaihi wa sallam kaum kerabat /sanak famili dan para jiran/tetangga memberikan makanan untuk ahli mayit yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka untuk mereka makan sehari semalam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Ja’far bin Abi Thalib wafat.

“Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far ! Karena sesungguhnya telah datang kepada mereka apa yang menyibukakan mereka (yakni musibah kematian).” [Hadits Shahih, riwayat Imam Asy Syafi’i ( I/317), Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad (I/205)]

Hal inilah yang disukai oleh para ulama kita seperti Syafi’iy dan lain-lain (bacalah keterangan mereka di kitab-kitab yang kami turunkan di atas).

Berkata Imam Syafi’iy : “Aku menyukai bagi para tetangga mayit dan sanak familinya membuat makanan untuk ahli mayit pada hari kematiannya dan malam harinya yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka, karena sesungguhnya yang demikian adalah (mengikuti) SUNNAH (Nabi)…. “ [Al-Um I/317]

Kemudian beliau membawakan hadits Ja’far di atas.

[Disalin dari buku Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzhab dan Hukum Membaca Al-Qur’an Untuk Mayit Bersama Imam Syafi’iy, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat (Abu Unaisah), Penerbit Tasjilat Al-Ikhlas, Cetakan Pertama 1422/2001M]
__________
Foote Note
[1]. Ini yang biasa terjadi dan Imam Syafi’i menerangkan menurut kebiasaan yaitu akan memperbaharui kesedihan. Ini tidak berarti kalau tidak sedih boleh dilakukan. Sama sekali tidak ! Perkataan Imam Syafi’i diatas tidak menerima pemahaman terbalik atau mafhum mukhalafah.
[2]. Perkataan ini seperti di atas yaitu menuruti kebiasaannya selamatan kematian itu menyusahkan dan menyibukkan. Tidak berarti boleh apabila tidak menyusahkan dan tidak menyibukkan ! Ambillah connoth firman Allah did alam surat An-Nur ayat 33 :”Janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi”. Apakah boleh kita menyuruh budak perempuan kita untuk melacur apabila mereka menginginkannya?! Tentu tidak!

————————————————————————————————————————————————-

KENDURI ARWAH

Oleh : Al Ustadz Rasul Dahri

Majlis kenduri arwah lebih dikenali dengan berkumpul beramai-ramai dengan hidangan jamuan (makanan) di rumah si Mati. Kebiasaannya diadakan sama ada pada hari kematian, dihari kedua, ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, setahun dan lebih dari itu bagi mereka yang fanatik kepada kepercayaan ini atau kepada si Mati. Malangnya mereka yang mengerjakan perbuatan ini tidak menyedari bahawa terdapat banyak fatwa-fatwa dari Imam Syafie rahimahullah dan para ulama besar dari kalangan yang bermazhab Syafie telah mengharamkan dan membid’ahkan perbuatan atau amalan yang menjadi tajuk perbincangan dalam tulisan ini.

Di dalam kitab (اعانة الطالبين) juz 2. hlm. 146, tercatit pengharaman Imam Syafie rahimahullah tentang perkara yang disebutkan di atas sebagaimana ketegasan beliau dalam fatwanya:

وَيَكْرَهُ اتِّخَاذُ الطَّعَامِ فِى الْيَوْمِ اْلاَوَّلِ وَالثَّالِث وَبَعْدَ اْلاُسْبُوْعِ وَنَقْلُ الطَّعَامِ اِلَى الْقُبُوْرِ

“Dan dilarang (ditegah/makruh) menyediakan makanan pada hari pertama kematian, hari ketiga dan seterusnnya sesudah seminggu. Dilarang juga membawa makanan ke kuburan”.

Imam Syafie dan jumhur ulama-ulama besar (ائمة العلماء الشافعية) yang berpegang kepada mazhab Syafie, dengan berlandaskan kepada hadis-hadis sahih, mereka memfatwakan bahawa yang sewajarnya menyediakan makanan untuk keluarga si Mati adalah jiran, kerabat si Mati atau orang yang datang menziarahi mayat, bukan keluarga (ahli si Mati) sebagaimana fatwa Imam Syafie:

وَاُحِبُّ لِجِيْرَانِ الْمَيِّتِ اَوْذِيْ قَرَابَتِهِ اَنْ يَعْمَلُوْا لاَهْلِ الْمَيِّتِ فِىْ يَوْمِ يَمُوْتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا مَا يُشْبِعُهُمْ وَاِنَّ ذَلِكَ سُنَّةٌ.

“Aku suka kalau jiran si Mati atau saudara mara si Mati menyediakan makanan untuk keluarga si Mati pada hari kematian dan malamnya sehingga mengenyangkan mereka. Sesungguhnya itulah amalan yang sunnah”.

Fatwa Imam Syafie di atas ini adalah berdasarkan hadis sahih:

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنِ جَعْفَرَ : لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرِ حِيْنَ قُتِلَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِصْنَعُوْا لآلِ جَعْفَرِ طَعَامًا فَقَدْ اَتَاهُمْ مَايُشْغِلُهُمْ . (حسنه الترمزى وصححه الحاكم)

“Abdullah bin Ja’far berkata: Ketika tersebar tentang berita terbunuhnya Ja’far, Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Hendaklah kamu menyediakan makanan untuk keluarga Ja’far, mereka telah ditimpa keadaan yang menyebukkan (kesusahan)”.

Dihasankan oleh at-Turmizi dan di sahihkan oleh al-Hakim.

Menurut fatwa Imam Syafie, adalah haram mengadakan kenduri arwah dengan menikmati hidangan di rumah si Mati, terutama jika si Mati termasuk keluarga yang miskin, menanggung beban hutang, meninggalkan anak-anak yatim yang masih kecil dan waris si Mati mempunyai tanggungan perbelanjaan yang besar dan ramai. Tentunya tidak dipertikaikan bahawa makan harta anak-anak yatim hukumnya haram. Telah dinyatakan juga di dalam kitab (اعانة الطالبين) jld. 2. hlm. 146:

وَقَالَ اَيْضًأ : وَيَكْرَهُ الضِّيَافَةُ مِنَ الطَّعَامِ مِنْ اَهْلِ الْمَيِّتِ لاَنَّهُ شَرَعَ فِى السُّرُوْرِ وَهِيَ بِدْعَةٌ

“Imam Syafie berkata lagi: Dibenci bertetamu dengan persiapan makanan yang disediakan oleh ahli si Mati kerana ia adalah sesuatu yang keji dan ia adalah bid’ah”.

Seterusnya di dalam kitab (اعانة الطالبين) juz. 2. hlm. 146 – 147, Imam Syafie rahimahullah berfatwa lagi:

وِمِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الْمَكْرُوْهِ فَعْلُهُ مَا يَفْعَلُ النَّاسُ مِنَ الْوَحْشَةِ وَالْجَمْعِ وَاْلاَرْبِعِيْنَ بَلْ كَلُّ ذَلِكَ حَرَامٌ

“Dan antara bid’ah yang mungkar ialah kebiasaan orang yang melahirkan rasa kesedihannya sambil berkumpul beramai-ramai melalui upacara (kenduri arwah) dihari keempat puluh (empat pulu harinya) pada hal semuanya ini adalah haram”.

Ini bermakna mengadakan kenduri arwah (termasuk tahlilan dan yasinan beramai-ramai) dihari pertama kematian, dihari ketiga, dihari ketujuh, dihari keempat puluh, dihari keseratus, setelah setahun kematian dan dihari-hari seterusnya sebagaimana yang diamalkan oleh masyarakat Islam sekarang adalah perbuatan haram dan bid’ah menurut fatwa Imam Syafie. Oleh itu, mereka yang mendakwa bermazhab Syafie sewajarnya menghentikan perbuatan yang haram dan bid’ah ini sebagai mematuhi wasiat imam yang agung ini.

Seterusnya terdapat dalam kitab yang sama (اعانة الطالبين) juz 2. hlm. 145-146, Mufti yang bermazhab Syafie al-Allamah Ahmad Zaini bin Dahlan rahimahullah menukil fatwa Imam Syafie yang menghukum bid’ah dan mengharamkan kenduri arwah:

وَلاَ شَكَّ اَنَّ مَنْعَ النَّاسِ مِنْ هَذِهِ الْبِدْعَةِ الْمُنْكَرَةِ فِيْهِ اِحْيَاءٌ لِلسُّنَّةِ وَاِمَاتَةٌ لِلْبِدْعَةِ وَفَتْحٌ لِكَثِيْرٍ مِنْ اَبْوَابِ الْخَيْرِ وَغَلْقٌ لِكَثِيْرٍ مِنْ اَبْوَابِ الشَّرِّ ، فَاِنَّ النَّاسَ يَتَكَلَّفُوْنَ تَكَلُّفًا كَثِيْرًا يُؤَدِّيْ اِلَى اَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ الصُّنْعُ مُحَرَّمًا .

“Dan tidak boleh diragukan lagi bahawa melarang (mencegah) manusia dari perbuatan bid’ah yang mungkar demi untuk menghidupkan sunnah dan mematikan (menghapuskan) bid’ah, membuka banyak pintu-pintu kebaikan dan menutup pintu-pintu keburukan dan (kalau dibiarkan bid’ah berterusan) orang-orang (awam) akan terdedah (kepada kejahatan) sehingga memaksa diri mereka melakukan perkara yang haram”.

Kenduri arwah atau lebih dikenali dewasa ini sebagai majlis tahlilan, selamatan atau yasinan, ia dilakukan juga di perkuburan terutama dihari khaul .(خول) Amalan ini termasuk perbuatan yang amat dibenci, ditegah, diharamkan dan dibid’ahkan oleh Imam Syafie rahimahullah sebagaimana yang telah ditegaskan oleh beliau:

مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنَ اْلاِجْتَمَاعِ عِنْدَ اَهْلِ الْمَيِّتِ وَصُنْعِ الطَّعَامِ مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ

“Apa yang diamalkan oleh manusia dengan berkumpul dirumah keluarga si mati dan menyediakan makanan adalah termasuk perbuatan bid’ah yang mungkar”. Lihat: اعانة الطالبين juz 2 hlm. 145.

Di dalam kitab fikh (حاشية القليوبي) juz. 1 hlm. 353 atau di kitab قليوبى – عميرة) -(حاشيتان juz. 1 hlm. 414 dapat dinukil ketegasan Imam ar-Ramli rahimahullah yang mana beliau berkata:

قَالَ شَيْخُنَا الرَّمْلِى : وَمِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الْمَكْرُوْهِ فِعْلُهَا كَمَا فِى الرَّوْضَةِ مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِمَّا يُسَمَّى الْكِفَارَةَ وَمِنْ صُنْعِ طَعَامِ للاِجْتَمَاعِ عَلَيْهِ قَبْلَ الْمَوْتِ اَوْبَعِدَهُ وَمِنَ الذَّبْحِ عَلَى الْقُبُوْرِ ، بَلْ كُلُّ ذَلِكَ حَرَامٌ اِنْ كَانَ مِنْ مَالٍ مَحْجُوْرٍ وَلَوْ مِنَ التَّركَةِ ، اَوْ مِنْ مَالِ مَيِّتٍ عَلَيْهِ دَيْنٌ وَتَرَتَّبَ عَلَيْهِ ضَرَرٌ اَوْ نَحْوُ ذَلِكَ.

“Telah berkata Syeikh kita ar-Ramli: Antara perbuatan bid’ah yang mungkar jika dikerjakan ialah sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab “Ar-Raudah” iaitu mengerjakan amalan yang disebut “kaffarah” secara menghidangkan makanan agar dapat berkumpul di rumah si Mati sama sebelum atau sesudah kematian, termasuklah (bid’ah yang mungkar) penyembelihan untuk si Mati, malah yang demikian itu semuanya haram terutama jika sekiranya dari harta yang masih dipersengketakan walau sudah ditinggalkan oleh si Mati atau harta yang masih dalam hutang (belum dilunas) atau seumpamanya”.

Di dalam kitab (الفقه على المذاهب الاربعة) jld.1 hlm. 539, ada dijelaskan bahawa:

وَمِنَ الْبِدَعِ الْمَكْرُوْهَةِ مَا يَفْعَلُ الآن مِنْ ذَبْحِ الذَّبَائِحَ عِنْدَ خُرُوْجِ الْمَيِّتِ اَوْ عِنْدَ الْقَبْرِ وَاِعْدَادِ الطَّعَامِ مِمَّنْ يَجْتَمِعُ لِتَّعْزِيَةِ .

“Termasuk bid’ah yang dibenci ialah apa yang menjadi amalan orang sekarang, iaitu menyembelih beberapa sembelihan ketika si Mati telah keluar dari rumah (telah dikebumikan). Ada yang melakukan sehingga kekuburan atau menyediakan makanan kepada sesiapa yang datang berkumpul untuk takziyah”.

Kenduri arwah pada hakikatnya lebih merupakan tradisi dan kepercayaan untuk mengirim pahala bacaan fatihah atau menghadiahkan pahala melalui pembacaan al-Quran terutamanya surah yasin, zikir dan berdoa beramai-ramai yang ditujukan kepada arwah si Mati. Mungkin persoalan ini dianggap isu yang remeh, perkara furu’, masalah cabang atau ranting oleh sebahagian masyarakat awam dan dilebih-lebihkan oleh kalangan mubtadi’ (مبتدع) “pembuat atau aktivis bid’ah” sehingga amalan ini tidak mahu dipersoalkam oleh pengamalnya tentang haram dan tegahannya dari Imam Syafie rahimahullah dan para ulama yang bermazhab Syafie.

Pada hakikatnya, amalan mengirim atau menghadiahkan pahala bacaan seperti yang dinyatakan di atas adalah persoalan besar yang melibatkan akidah dan ibadah. Wajib diketahui oleh setiap orang yang beriman bahawa masalah akidah dan ibadah tidak boleh dilakukan secara suka-suka (tanpa ada hujjah atau dalil dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya), tidak boleh berpandukan pada anggapan yang disangka baik lantaran ramainya masyarakat yang melakukannya, kerana Allah Subhanahu wa-Ta’ala telah memberi amaran yang tegas kepada mereka yang suka bertaqlid (meniru) perbuatan orang ramai yang tidak ada dalil atau suruhannya dari syara sebagaimana firmanNya:

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى اْلاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلاَّ الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلاَّ يَخْرُصُوْنَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan (majoriti) orang-orang yang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkan diri kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”.

Al-An’am, 6:116.

Begitu juga sesuatu amalan yang disangkakan ibadah sama ada yang dianggap wajib atau sunnah, maka ia tidak boleh ditentukan oleh akal atau hawa nafsu, antara amalan tersebut ialah amalan kenduri arwah (tahlilan atau yasinan) maka lantaran ramainya orang yang mengamalkan dan adanya unsur-unsur agama dalam amalan tersebut seperti bacaan al-Quran, zikir, doa dan sebagainya, maka kerananya dengan mudah diangkat dan dikategorikan sebagai ibadah. Sedangkan kita hanya dihalalkan mengikut dan mengamalkan apa yang benar-benar telah disyariatkan oleh al-Quran dan as-Sunnah jika ia dianggap sebagai ibadah sebagaimana firman Allah Azza wa-Jalla:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيْعَةٍ مِنَ اْلاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَ تَتَّبِعْ اَهْوَاءَ الَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ . اَنَّهُمْ لَنْ يُّغْنُوْا عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan yang wajib ditaati) dalam urusan (agamamu) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (orang jahil). Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak diri kamu sedikitpun dari siksaan Allah”.

Al-Jasiyah, 45:18-19.

Setiap amalan yang dianggap ibadah jika hanya berpandukan kepada andaian mengikut perkiraan akal fikiran, perasaan, keinginan hawa nafsu atau ramainya orang yang melakukan tanpa dirujuk terlebih dahulu kepada al-Quran, as-Sunnah dan athar yang sahih untuk dinilai sama ada haram atau halal, sunnah atau bid’ah, maka perbuatan tersebut adalah suatu kesalahan (haram dan bid’ah) menurut syara sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat di atas dan difatwakan oleh Imam Syafie rahimahullah. Memandangkan polemik dan persoalan kenduri arwah kerapkali ditimbulkan dan ditanyakan kepada penulis, maka ia perlu ditangani dan diselesaikan secara syarii (menurut hukum dari al-Quran dan as-Sunnah) serta fatwa para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah dari kalangan Salaf as-Soleh yang muktabar. Dalam membincangkan isu ini pula, maka penulis tumpukan kepada kalangan para ulama dari mazhab Syafie kerana ramai mereka yang bermazhab Syafie menyangka bahawa amalan kenduri arwah, tahlilan, yasinan atau amalan mengirim pahala adalah diajarkan oleh Imam Syafie dan para ulama yang berpegang dengan mazhab Syafie.

Insya-Allah, mudah-mudahan tulisan ini bukan sahaja dapat menjawab pertanyaan bagi mereka yang bertanya, malah akan sampai kepada mereka yang mempersoalkan isu ini, termasuklah mereka yang masih tersalah anggap tentang hukum sebenar kenduri arwah (tahlilan atau yasinan) menurut Ahli Sunnah wal-Jamaah.

MENGHADIAHKAN PAHALA BACAAN KEPADA SI MATI

Jika dipertimbangkan mengikut logika akal, amalan membaca fatihah atau membaca ayat-ayat al-Quran kemudian menghadiahkan pahala bacaannya kepada si Mati (arwah), tentulah tidak ada salahnya, malah ia menggambarkan suatu perbuatan yang baik, bagus dan mulia. Begitu juga dengan membaca al-Quran dengan mengadakan kenduri arwah, tahlilan atau yasinan beramai-ramai atau berseorangan, sama ada yang dikhususkan di malam-malam tertentu, di hari-hari tertentu, di bulan-bulan tertentu atau di tempat-tempat tertentu seperti di atas kubur dan sebagainya, pastinya sekali pandang perbuatan ini adalah baik, malah menggambarkan pekerjaan terpuji kerana antara tujuannya ialah untuk menghapuskan dosa seseorang (roh orang mati) di samping mengirim pahala yang dibaca oleh orang yang ramai kepada si mati untuk mengurangkan penderitaannya. Namun, apabila dikembalikan kepada syara ia adalah perbuatan bid’ah yang mungkar.

Ada antara mereka (terutama pengemar kenduri arwah, yasinan, tahlilan dan selamatan) berhujjahkan hadis berikut untuk membolehkan membaca surah Yasin sama ada untuk menghapuskan dosa si Mati atau mengirim pahala bacaan tersebut kepada si Mati:

مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ اَوْ اَحَدِهِمَا يَوْمَ الْجُمْعَةِ فَقَرَاَ يَس ، غُفِرَ لَهُ .

“Barangsiapa yang menziarahi kubur orang tuanya atau salah seorang dari keduanya pada hari Jumaat, kemudian membacakan surah Yasin, maka akan diampunkan dosanya”.

Hadis di atas ini adalah hadis batil, palsu atau tidak ada asal usulnya. Terdapat di dalam sanadnya seorang yang bernama ‘Amar yang dikenali sebagai pemalsu hadis dan banyak meriwayatkan hadis-hadis yang batil. Imam Daraqutni rahimahullah berkata tentang ‘Amar: “Amar adalah seorang pemalsu hadis”. 4 [1]

Terdapat beberapa ulama yang sezaman dengan Imam Syafie yang telah mengharamkan kenduri arwah, salah seorang dari mereka ialah sahabat Imam Syafie bernama Imam Muzani rahimahullah, beliau menolak pendapat mereka yang membolehkan kenduri arwah, malah beliau telah menfatwakan tentang pengharaman mengirim (menghadiahkan) pahala dari bacaan al-Quran untuk menyelamatkan orang mati sebagaimana yang diamalkan dalam majlis kenduri arwah, beliau berkata:

فَاَعْلَمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ مَا اَعْلَمَ اللهُ مِنْ اَنَّ جِنَايَةَ كُلِّ امْرِئٍ عَلَيْهِ كَمَا اَنَّ عَمَلُهُ لَهُ لاَ لِغَيْرِهِ وَلاَ عَلَيْهِ.

“Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam telah memberi tahu sebagaimana Allah memberi tahu: Bahawa dosa tiap-tiap orang adalah buat kecelakaan dirinya sendiri sebagaimana amalannya itu buat kebaikan dirinya sendiri bukan untuk kecelakaan orang lain”.5 [1]

Terdapat juga segolongan mereka yang berhujjahkan fatwa Syeikhul Islam Imam Ibn Taimiyah rahimahullah yang pernah membolehkan perbuatan mereka yang menghadiahkan pahala bacaan al-Quran kepada orang yang telah mati, tetapi pada kenyataannya Syeikhul Islam Ibn Taimiyah telah ruju’ (menarik balik dan membatalkan fatwa beliau), yang mana beliau telah menegaskan:

“Bahawa bukan menjadi suatu kebiasaan bagi para Salaf as-Soleh apabila mereka mengerjakan solat-solat sunnah, berpuasa, haji dan membaca al-Quran lalu pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah mati”

Penarikan semula Syeikhul Islam Ibn Taimiyah terhadap fatwa beliau yang pada asalnya membolehkan (menghadiahkan pahala bacaan al-Quran kepada si Mati) kemudian mengharamkannya, ianya boleh ditemui di dalam kitab Ali Abdul al-Kafi as-Subki “Takmilatul Majmu” – شرح مهذب تكملة المجموع jld. 10 hlm. 417.

Di dalam kitab(الخازن الجمل) juz. 4 hlm. 236 dan di dalam kitab “Syarah Muslim” juz 1 hlm. 90. Imam an-Nawawi rahimahullah telah menjelaskan pendapat Imam as-Syafie tentang perbuatan yang diamalkan dalam majlis kenduri arwah iaitu pengiriman pahala kepada orang mati. Beliau berkata:

وَاَمَّا قِرَاءَ ةُ الْقُرْآنِ فَالْمَشْهُوْرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِى اَنَّهُ لاَ تَصِلُ ثَوَابُهَا اِلَى الْمَيِّتِ.

“Adapun bacaan al-Quran maka yang masyhur dikalangan mazhab Syafie bahawa tidak sampai pahala bacaan yang dikirim kepada orang yang telah mati”.

Sekali lagi Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam kitab السبكي – تكملة المجموع ، شرح مهذب juz 10 hlm. 426 bahawa:

وَاَمَّا قِرَاءَ ةُ الْقُرْآنِ وَجَعَلَ ثَوَابَهَا لِلْمَيِّتِ وَالصَّلاَةُ عَنْهُ وَنَحْوَهَا فَذَهَبَ الشَّافِعِي وَالجُمْهُوْرُ اَنَّهَا لاَ تَلْحَقُ الْمَيِّتَ ، وَكَرَّرَ ذَلِكَ فِى عِدَّةِ مَوَاضِعِ فِى شَرْحِ مُسْلِمِ.

“Adapun pembacaan al-Quran dan menghadiahkan pahalanya kepada orang mati, membayar solatnya dan sebagainya, maka menurut Imam Syafie dan jumhur ulama Syafie adalah tidak sampai kepada si Mati. Penjelasan seperti ini telah diulang-ulang (oleh Imam Muslim) dalam kitab syarah Muslim”.

Di dalam kitab الفتاوى الكبرى الفقهية Syeikh al-Haitami rahimahullah juga telah menjelaskan:

اَلْمَيِّتُ لاَيُقْرَاُ عَلَى مَااَطْلَقَهُ الْمُتَقَدِّمُوْنَ مِنْ اَنَّ الْقِرَاءَ ةَ لاَ تصِلُهُ اَي الْمَيِّتَ لاَنَّ ثَوَابَهَا لِلْقَارِئ وَالثَّوَابُ عَلَى عَمَلِ لاَيُنْقَلُ عَنْ عَامِلِ ذَلِكَ الْعَمَلِ ، قَالَ تَعَالَى {وَاَنْ لَيْسَ للاِنْسَانِ اِلاَّ مَاسَعَى}.

“Mayat tidak boleh dibacakan al-Quran sebagaimana keterangan yang ditetapkan oleh orang-orang terdahulu, bahawa bacaan al-Quran pahalanya tidak sampai kepada si Mati, lantaran pahala bacaan hanya untuk si Pembaca. Pahala amalan pula tidak boleh dipindah-pindahkan dari si Pembuat berdasarkan firman Allah Ta’ala: Dan manusia tidak memperolehi pahala kecuali dari amalan yang dikerjakannya sendiri”.

Ada yang berpendapat bahawa ayat 39 di surah an-Najm ini telah dan dimansuhkan oleh ayat 21 di surah ath-Thur. Imam Syaukani rahimahullah menolak pendapat ini dan beliau berkata:

Adapun makna dari ayat: (Seseorang tidak akan mendapat melainkan atas usahanya sendiri). Lafaz dalam ayat ini termasuk umum yang mukhasas, oleh itu tidak tepat kalau ada yang berkata bahawa ayat ini telah dimansuhkan dalam urusan ini, kerana yang khas tidak boleh memansuhkan lafaz umum, tetapi hanya sebagai takhsisnya sahaja. Maka apabila ada dalil lain yang boleh menentukan bahawa seseorang memperolehi manfaat dari amal orang lain, maka dalil itu sebagai takhsisnya bukan sebagai nasikh serperti ayat yang terdapat di surah ath-Thur: (Kami akan hubungkan dengan mereka itu anak cucu mereka)”.

Namun apabila dibuka secara ilmiyah ruang agama untuk membincangkan, mengkaji dan meneliti semula amalan yang diperkatakan di atas, terbukti ia terlalu bertentangan dengan syara, malah termasuk dalam amalan atau perbuatan yang ditegah, diharamkan dan bid’ah. Benarnya kenyataan ini dapat dibuktikan apabila kita memahami kesemua hujjah-hujjah dan dalil-dalil syara yang dikemukakan oleh para ulama dari kalangan mazhab Syafie.

Walaupun ada pendapat yang menyangka bahawa persoalan kenduri arwah, yasinan, tahlilan dan selamatan ini tidak perlu diungkit dan dibangkitkan lagi kerana (kononnya) ia telah lama diselesaikan oleh para ulama, namun perlu diketahui bahawa yang telah diselesaikan oleh para ulama terutamanya Imam Syafie dan para ulama yang bermazhab Syafie ialah tentang pengharaman dan bid’ahnya amalan tersebut bukan sebaliknya. Pembuktian kenyataan ini dapat difahami dan dibuktikan melalui beberapa fatwa Imam Syafie dan para ulama as-Syafieyah sebagaimana yang telah di nukil di dalam tulisan ini.

[1]. Lihat: كتاب الموضوعات Juz 3. hlm. 239. Dan Lihat: اعانة

الطالبين Juz. 2. Hlm. 146.

[2]. Lihat: هامش الام للشافعي Juz. 7. Hlm. 269.

HUKUM MENDOAKAN ORANG MATI

Apa yang terdapat di dalam al-Quran, al-Hadis, contoh yang boleh diambil dari perbuatan para sahabat dan amalan para ulama Ahli Sunnah wal Jamaah yang berpegang dengan manhaj salaf hanyalah amalan berupa doa. Sememangnya doa orang-orang beriman diterima oleh Allah dan akan sampai kepada orang yang telah mati jika si Mati itu beriman. Namun berdoa yang dimaksudkan bukanlah dengan cara mentahlilkan, meyasinkan dan membacakan al-Quran beramai-ramai untuk si Mati sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang awam (orang-orang jahil) dan para pembuat bid’ah.

Mendoakan si Mati adalah sunnah hukumnya dan dibolehkan apabila mencontohi sunnah Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat baginda atau amalan orang-orang Salaf as-Soleh. Kemudian terserah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diterima atau ditolak. Penjelasan ini adalah bersandarkan kepada ayat-ayat di bawah ini:

وَالَّذِينَ جاءُ وْا مِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْـفِرْلَنَا وَلاِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَ بِالاِيْمَانِ.

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka itu akan berkata: Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman sebelum kami”.

AL HASYR, 59:10.

رَبَّنَا اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابِ.

“Ya Tuhan kami! Berilah keampunan kepadaku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat).”

IBRAHIM, 14:41.

وَاسْتـَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ.

“Dan minta ampunlah bagi dosa-dosamu dan bagi orang-orang yang beriman”.

MUHAMMAD, 47:19.

Memohon doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang terdapat pada dua ayat di atas termasuk perbuatan ibadah bukan bid’ah. Walaupun ayat-ayat ini merupakan hujjah, tetapi ia tidak menerangkan atau mengajar bagaimana cara berdoa selain yang telah dikerjakan oleh Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in dan tabi’u at-tabi’in yang dikenali sebagai para Salaf as-Soleh.

Apa yang dilakukan oleh mereka yang menetapkan hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu atau kerana sesuatu sempena yang khusus dengan mengadakan majlis yasinan atau tahlilan maka itu adalah bid’ah yang diada-adakan. Ayat-ayat yang lalu menganjurkan agar orang beriman berdoa untuk dirinya sendiri, untuk saudara-maranya yang beriman sama ada yang masih hidup atau yang telah mati (hanya begitu sahaja) tidak lebih dari itu dan tidak pernah diajar bagaimana ianya dikerjakan.

Sesiapa yang menganjurkan atau mencipta cara-cara tertentu yang diada-adakan dengan membaca al-Quran dan berdoa seperti menganjurkan majlis yasinan dan tahlilan sebagaimana yang dilakukan oleh aktivis bid’ah sekarang sedangkan tidak pernah disarankan oleh al-Quran, diajar atau dicontohkan oleh Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, maka ia telah melakukan bid’ah yang ditolak dan diharamkan. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan tentang perkara-perkara yang sengaja dicipta dan diada-adakan dengan sabdanya:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Sesiapa yang melakukan sesuatu amal yang bukan dari perintah kami (Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya) maka amalan itu tertolak”.

H/R Muslim.

مَنْ اَحْدَثَ فِىْ اَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌَّ. رواه البخارى ومسلم.

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami ini sedangkan ia bukan (dari kami) maka ia tertolak”.

H/R Bukhari dan Muslim

مَنْ صَنَعَ اَمْرًا عَلَى غَيْرِ اَمْرِنَا فَهُوِ رَدٌّ

Barangsiapa yang mencipta suatu urusan (agama) yang bukan atas suruhan kami, maka ia tertolak (bid’ah)”.

Sesiapa yang mendakwa bid’ah hasanah atau sunnah mengadakan majlis-majlis tertentu seperti mengkhususkan suatu majlis untuk tujuan berdoa atau upacara pembacaan ayat-ayat tertentu dari al-Quran yang bertujuan untuk menghadiahkan (mengirim) pahalanya kepada orang mati sedangkan tidak ada suruhan atau contoh dari syara, maka segala dakwaan itu adalah suatu pembohongan terhadap Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dan merupakan perbuatan bid’ah yang sesat bukan bid’ah hasanah sebagaimana yang disangkakan.

Orang-orang yang sengaja membohongi Nabi Muhammad salallahu ‘alahi wa-sallam terutamanya pada perkara-perkara akidah, ibadah atau agama, ia akan menerima azab yang pedih, sebagaimana peringatan yang telah disampaikan oleh baginda melalui hadisnya:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ. الحديث المتواتر.

“Sesiapa yang berbuat dusta (pembohongan) atas (nama)ku, maka hendaklah dia bersiap untuk menerima tempat duduknya dari api neraka”.

Hadis Mutawatir.

Tidak ada penetapan masa, hari, tempat dan cara dalam beribadah kecuali yang telah ditetapkan oleh al-Quran dan ditunjuk-ajar serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa pun jenis amal-ibadah sama ada berdoa atau membaca al-Quran apabila dilakukan seorang diri, beramai-ramai, diubah-suai, diadakan beberapa peraturan dan ditentukan cara-caranya, maka ia termasuk perbuatan bid’ah lebih-lebih lagi apabila pahala bacaannya diniatkan untuk dihadiahkan (dikirim) kepada orang mati.

Begitu juga dengan majlis-majlis kenduri arwah, tahlilan, yasinan, selamatan dan sebagainya yang masih dilakukan oleh masyarakat Islam Nusantara, di mana semua perbuatan tersebut amat nyata tidak ada keterangan atau suruhan dari al-Quran dan al-Hadis. Dalam larangan yang berkaitan dengan hal-hal bid’ah seperti ini kita boleh mengambil hadis Nabi yang melarang pengkhususan ibadah, seperti mengkhususkan ibadah dimalam-malam tertentu atau berpuasa dihari-hari tertentu:

عَنْ أبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَتَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ بِقِيَامِ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى ، وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمْعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اْلأيَّامِ اِلاَّ أنْ يَكُونَ فِى صَوْمٍ يـَوْمُهُ أحَـدكُمْ.

“Dari Abi Hurairah, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jumaat untuk melakukan ibadah antara malam-malam yang lain dan janganlah kamu menentukan Hari Jumaat sahaja untuk berpuasa antara hari-hari yang lain, kecuali memang singgah puasa (tidak secara langsung) yang dikerjakan oleh seseorang kamu.”[1]

Menetapkan malam-malam tertentu sebagai malam sunnah untuk beribadah jika tidak ada suruhan, tidak ada contoh dan tidak ada keizinannya dari syara (al-Quran dan al-Hadis), yang hanya dilakukan semata-mata kerana meniru (taklid) kepada perbuatan yang diada-adakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab adalah amalan bid’ah, bukan ibadah atau sunnah dan ditolak oleh syara serta perlu ditinggalkan dan dijauhi oleh orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menerima setiap amalan yang dianggap bid’ah. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima (menolak) ibadah yang tidak mencontohi Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam kerana baginda diutus semata-mata untuk memberi contoh tauladan dalam melaksanakan ibadah, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فَى رَسُوْلِ اللهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوْا اللهَ وَاليَوْمِ اْلاَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu tauladan (contoh ibadah) yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat serta dia banyak mengingati Allah”.

AL AHZAB, 33:21.

Ayat ini telah menjelaskan bahawa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam diutus hanyalah semata-mata untuk dijadikan contoh dalam mengamalkan setiap ibadah jika seseorang itu mahu amal-ibadahnya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesiapa yang ingkar, menolak atau enggan mematuhi dan mencontohi Nabi Muhaammad salallahu ‘alaihi wa-sallam dalam mengerjakan ibadah termasuklah bentuk bagaimananya (كـَيْـفِـيـَّةٌ) dan cara-caranya dalam melaksanakan setiap ibadah maka dia telah melakukan bid’ah dan menolak (mengenepikan) peranan Nabi Muhammad sebagai Rasul utusan. Hadis sahih di atas ini juga telah dikuatkan lagi oleh beberapa hadis yang berikut:

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَـلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَـلَّمَ قَالَ : كُلُّ اُمَّتِيْ يَدْخُـلُوْنَ الْجَنَّةَ اِلاَّ مَنْ اَبَى . قَالُوْا : يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَنْ يَاْبَى؟ قَالَ مَنْ اَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ اَبَى.

“Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu dari Nabi salallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Setiap umatku akan masuk syurga kecuali orang yang enggan. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang enggan itu? Rasulullah menjawab: Sesiapa yang taat kepadaku maka dia masuk syurga dan sesiapa yang durhaka kepadaku maka sesungguhnya dia telah enggan”.[2]

Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam telah pun menunjuk ajar, menerang, melaksana dan menentukan sah batalnya hukum-ahkam dalam syara yang wajib dijadikan contoh dan dipatuhi oleh setiap mukmin. Sesiapa yang menyalahi cara dan bagaimananya (kaifiat) Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat melaksanakan ibadah, maka dia telah membuat kemungkaran (bid’ah) dan fitnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi peringatan dengan firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهِ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْيُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ. .

“Maka hendaklah diawasi oleh mereka yang menyalahi perintahnya (perintah Allah dan Rasul) bahawa mereka akan ditimpa fitnah atau ditimpa oleh siksa yang pedih”.

AN NUR, 24:63.

تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاء لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَيَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِيْ اِلاَّ هَالِكٌ.

“Aku telah tinggalkan pada kamu agama ini dalam keadaan putih bersih (jelas). Malamnya seperti siangnya yang tidak ada yang menyimpang daripadanya setelah (kewafatanku kecuali akan ditimpakan kepadanya) kehancuran”.[3]

Dalam urusan agama dan amal-ibadah seseorang tidak boleh bersandar kepada sangkaan, andaian, perkiraan, atau logika akal (otak manusia) semata-mata untuk menghukum sesuatu sebagai wajib, haram, makruh, sunnah atau harus. Urusan ibadah bukanlah urusan akal untuk mencipta dan menilainya. Agama dan hukum-ahkamnya adalah urusan Allah Subhanahu wa Ta’ala Hanya Dia sahaja yang tahu dan layak mencipta serta menguruskannya.

Seseorang yang telah mencipta sesuatu bentuk cara ibadah ia telah termasuk dalam kalangan orang-orang yang menyerupai perbuatan Yahudi dan Nasrani. Telah disiapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tempat mereka itu di neraka kerana kemungkarannya menambah serta mereka-cipta ibadah mengikut selera, andaian, perkiraan dan sangka-sangkaan mereka sendiri. Jika gejala seperti ini tidak dibendung dan dihapuskan oleh setiap pejuang sunnah, tidak mustahil akan terus wujud berbagai-bagai lagi penambahan dan perbuatan bid’ah yang akan merosakkan akidah, agama serta syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sangka-sangka seperti ini telah diberitakan di dalam al-Quran sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا.

“Dan mereka menyangka bahawa mereka mencipta (ibadah) yang baik (untuk mereka)”.

AL KAHFI, 18:104.

Perubahan agama seperti yang telah menimpa ke atas agama-agama sebelum Nabi Muhammad sallahu ‘alaihi wa sallam tidak mustahil akan berlaku ke atas agama Islam jika aktivis bid’ah yang fasik masih dibiarkan mencipta berbagai-bagai bid’ah.

Di dalam kitab “ar-Risalah” oleh Imam Syafie, beliau telah menyentuh isu bid’ah (sesuatu yang diada-adakan dalam agama kemudian dianggap baik) dengan memberi peringatan tegas melalui kata-kata beliau yang masyhur:

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدَ شَرَّعَ (وَمَنَ شَرَّعَ فَقَدْ كَفَرَ)

“Sesiapa yang beristihsan (menyangka baik satu-satu amalannya yang direka), bererti dia telah membuat satu syariat (dan sesiapa yang membuat syariat, maka ia sudah kafir)”.[4]

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan sesuatu yang tidak jelas atau samar-samar dalam agama Islam, jauh sekali dari terlupa untuk menyampaikan apa yang telah diterima dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada lagi yang tertinggal untuk disampaikan kepada ummahnya walaupun satu huruf. Baginda tidak pernah merasa takut atau gentar untuk menyampaikan dan menyempurnakan dakwah Islamiyah yang berupa wahyu dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi jaminan akan kesempurnaan dakwah dan penyampaian Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam disetiap aspeknya. Setiap yang diterima dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tiada yang tertinggal untuk disampaikan kepada ummah walaupun sekecil hama atau zarrah. Firman Allah:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلاِسْلاَمَ دِيْنًا.

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kamu buat kamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah Aku redai Islam menjadi agamamu”.

AL MAIDAH,5:3.

Hakikatnya, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencontohkan, menyuruh atau mengajar para sahabat baginda cara sebagaimana yang diamalkan sekarang untuk membacakan al-Quran atau menghadiahkan pahala bacaannya kepada orang mati. Apa yang pernah dilakukan dan diajarkan oleh baginda kepada para sahabat ialah cara-cara berdoa untuk orang mati, cara menziarahi kubur dan salam serta ucapan yang harus diucapkan semasa mereka masuk ke kawasan perkuburan (menziarahi kubur) sebagaimana hadis sahih di bawah ini:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُـعَلـِّمُهُمْ اِذَا خَرَجُوا اِلَى الـْمَـقَابِرِ فَكَانَ قَائـِلُهُمْ يـَقُولُ : اَلسَّلاَمُ عَلَـيْكُمْ أهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْـمُـؤْمِـنـِيْنَ وَالْمُسْلِمِـيْنَ فَاِنْ شَآءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِـقُـونَ اَنـْتـُمْ فَرَطْنَا وَنَحْنُ لَكُمْ تـَبـعَ وَنـَسْألُ اللهَ لـَنَا وَلَكُمُ الْعَافِـيَـةَ.

“Pernah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam mengajar para sahabat semasa mereka ingin berziarah kubur supaya mereka mengucapkan:[5]

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ فَاِنْ شَآءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ أنْتُمْ فَرَطْنَا وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعَ وَنَسْـألُ اللهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةُ.

Dalam hadis ini, Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan para sahabat cara memberi salam dan doa. Baginda tidak pernah pula mengajar atau menyuruh membaca al-Quran semasa menziarahi kubur. Dalam hadis-hadis yang sahih telah diceritakan bahawa Nabi pernah menziarahi perkuburan Baqi’ di Madinah tetapi tiada satu pun riwayat yang sahih menjelaskan bahawa baginda pernah membaca al-Quran di atas kuburan atau menghadiahkan pahala bacaan baginda kepada penghuni kubur di Baqi’.

Sekiranya amalan membaca al-Quran di kuburan atau di mana sahaja yang bertujuan untuk menghadiahkan pahala bacaannya kepada ahli kubur (arwah atau orang mati) itu baik dan mulia, ditambah pula dengan mengadakan kenduri dan jemputan secara besar-besaran atau kecil-kecilan itu juga boleh dianggap terpuji dan baik, tentulah Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang pertama melakukannya. Ini adalah kerana Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah insan yang paling takwa kepada Allah, paling kuat beribadah dan paling cinta kepada kebaikan.

Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi sallam adalah Nabi yang sangat mencintai keluarga dan para sahabat tetapi semasa berlaku kematian sahabat, tidak pernah baginda mengadakan kenduri tahlilan atau yasinan untuk menghadiahkan bacaan al-Quran kepada sahabat baginda itu.

Jika sekiranya pahala membaca al-Quran boleh dihadiahkan kepada para arwah di kubur untuk menolong dan menambah pahala orang yang telah mati, tentulah Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam awal-awal lagi telah membacakan al-Quran untuk dihadiahkan pahala bacaannya kepada arwah sahabat-sahabat yang sangat baginda cintai dan kubur mereka sering baginda ziarahi. Perbuatan yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perbuatan bid’ah kerana tiada contoh dan suruhan dari baginda.

Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui semua ibadah yang paling baik dan sempurna, disusuli oleh para sahabat kerana mereka hidup di samping Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, di zaman turunnya al-Quran, dikurun yang terbaik dan dizaman terlaksananya keseluruhan suruhan al-Quran dan as-Sunnah, tetapi mereka tidak pernah mengadakan kenduri arwah, tahlilan atau amalan yang khusus untuk orang mati sebagaimana yang dilakukan oleh aktivis bid’ah dewasa ini.

Cara untuk berdoa atau bersedekah dari harta peninggalan si Mati tidak semestinya melalui kenduri tahlilan, yasinan atau dibaca beramai-ramai melalui majlis-majlis keramaian, majlis kenduri atau sebagainya kerana perbuatan serupa itu tidak ada suruhan dari al-Quran, sama sekali tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam, dari para sahabat atau dari golongan Salaf as Soleh. Mengerjakan sesuatu yang dianggap ibadah jika tiada suruhan dan tiada contohnya dari syara adalah bid’ah dhalalah. “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dari bid’ah yang menyesatkan dengan sentiasa memberikan hidayah-Nya”.

Tidak ada jalan keluar untuk menyelamatkan ibadah dan akidah seseorang dari terjebak ke kancah kesesatan (bid’ah), khurafat dan kemungkaran (syirik) kecuali setelah kembali kepada al-Quran, al-Hadis yang sahih dan ijmak ulama Salaf as-Soleh. Dan hanya dengan memahami kedua-dua kitab ini kemudian terus mematuhinya akan menanamkan keyakinan akidah yang murni di samping menunjuk ajar cara yang sempurna untuk mengatur segala muamalah dalam kehidupan manusia yang beriman.

Hadis-hadis sahih pula akan memberikan segala contoh yang telah ditunjuk dan dilaksanakan oleh Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam supaya diimani, diamalkan dan dipatuhi. Hanya dengan berpegang teguh kepada gabungan dua kitab ini sahajalah yang dapat membuka pintu hidayah untuk seseorang sehingga segala ubudiyahnya terhadap Allah benar-benar bersih dari segala unsur bid’ah dan jahiliah yang menyesatkan. Inilah yang dinamakan “tazkiyah” atau “tasfiyah” di dalam syara.

[1]. H/R Muslim (1930) as-Siam.

[2]. H/R Bukhari (13/214). Ahmad (2/361).

[3]. H/R diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanadnya yang sahih.

[4]. Lihat: حاشية جمع الجوامع Jld. 2. hlm. 295.

[5]. H/R Muslim (1620) al-Janaiz. Nasaii (2013) al-Janaiz. Ibn Majah (1536) Ma Jaa fil Janaiz. Ahmad (8523) Musnad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: