TELAAH KRITIS TERHADAP BUKU-BUKU PROF.M.QURAISH SHIHAB

Buku ” MEMBUMIKAN AL QUR’AN ”

Oleh : Abu Ahmad as Salafi hafizhahullah

Buku Membumikan Al Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat Adalah sebuah buku popular yang pernah mendapatkan predikat best seller. Ia berasal dari enam puluh lebih makalah dan ceramah yang pernah disampaikan penulisnya pada rentang waktu 1975 hingga 1992.

Buku ini terbagi menjadi dua bagian: yang pertama adalah gagasan al Qur’an yang merupakan penjelasan pokok-pokok memahami al Qur’an dan yang keduaadalah amalan al Qur’an yang menggambarkan tentang solusi problem-problem masyarakat dengan berpijak pada pemahaman al Qur’an.

Hanya, setelah kami telaah buku ini, ternyata di dalamnya TERDAPAT SYUBHAT-SYUBHAT YANG MEMBAHAYAKAN AQIDAH DAN PEMAHAMAN SEORANG MUSLIM. Karena itulah, insya Allah dalam pembahasan kali ini kami berusaha melakukan telaah kritis terhadap buku ini untuk memenuhi permintaan sebagian pembaca Al Furqon yang meminta kami untuk membahas buku ini dan sekaligus sebagai nasihat kepada kaum muslimin secara umum.

Penulis dan Penerbit Buku Ini
Buku ini ditulis oleh Prof.Dr.Muhammad Quraisy Syihab, MA. Dan diterbitkan oleh penerbit Mizan Bandung Edisi Baru cetakan pertama Juli 2007/Rajab 1428

Kitab-Kitab Aqidah Tidak Relevan Dengan Kondisi Masa Kini..?!
Penulis berkata dalam hal.289:
“Secara umum, para ahli keislaman mengakui bahwa materi-materi yang ditemukan di dalam berbagai kitab aqidah (teologi) tidak sepenuhnya lagi relevan dengan kondisi masa kini. Materi-materi tersebut diambil oleh generasi demi generasi. Sedangkan penulisannya pertama kali diperngaruhi oleh situasi sosial politik saat itu.”
Kemudian penulis menyebutkan rujukannya dalam masalah ini kepada tokoh-tokoh rasioanalis: Abdul Halim Mahmud dalam kitabnya Al Islam wal Aql, Mahmud Syaltut dalam kitabnya al Islam Aqidah wa Syari’ah, dan Muhammad al Ghazali dalam Aqidah al Muslim.
Kami katakan:
Perkataan penulis di atas senada dengan perkataan Muhammad Surur (Manhajul Anbiya’ Fid Da’wah Ilallah1/8): “Aku melihat kitab-kitab aqidah, ternyata kitab-kitab itu ditulis bukan pada zaman kita. Kitab-kitab itu adalah solusi bagi permasalahan–permasalahan yang terjadi di saat kitab-kitab itu ditulis, sedangkan zaman kita sekarang ini membutuhkan solusi-solusi yang baru. Gaya bahasa kitab-kitab aqidah banyak yang kering karena hanya terdiri dari nash-nash dan hukum-hukum…”
Syaikh Sholih bin Fauzan al Fauzan hafidzahullah telah membantah syubhat diatas. Beliau mengatakan (Ajwibah Mufidah ‘An As’ilatil Manahijil Jadidah hal.55-56):
“Orang ini –Muhammad Surur- hendak menyesatkan para pemuda Islam dengan perkataannya ini, memalingkan mereka dari kitab-kitab aqidah yang shohihah dan dari kitab-kitab salaf. Dia mengarahkan para pemuda Islam kepada pemikiran-pemikiran baru dan kitab-kitab baru yang mengandung syubhat-syubhat. Kitab-kitab aqidah, kelemahannya menurut Muhammad Surur adalah karena terdiri atas nash-nash dan hukum-hukum, didalamnya terdapat perkataan Allah dan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan dia menginginkan pemikiran fulan dan fulan, dan tidak ingin nas-nash dan hukum-hukum. Oleh sebab itu, wajib bagi kalian –kaum muslimin- mewaspadai seludupan-seludupan pemikiran yang bathil ini yang bertujuan memalingkan para pemuda kita dari kitab-kitab salaf yang sholih.
Alhamdulillah, kita telah merasa cukup dengan peninggalan-peninggalan salafush shalih seperti kitab-kitab aqidah dan kitab-kitab dakwah, bukan dengan gaya bahasa yang kering –seperti yang disangka Muhammad Surur- melainkan dengan gaya bahaya ilmiah dari Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam seperti Shohih Bukhari, Shohih Muslim, dan kitab-kitab hadits yang lainnya, kemudian kitab-kitab sunnah, seperti kitab as Sunnah oleh Ibnu Abi AShim, asy Syari’ah oleh al Ajuri, as Sunnah oleh Abdulah bin Imam Ahmad, kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya, Ibnul Qoyyim, dan kitab-kitab Syaikhul Islam al Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab. Wajib atas kalian mengambil dari kitab-kitab ini. Maka aqidah tidak boleh diambil kecuali dari nash-nash Kitab dan Sunnah, bukan dari pemikiran fulan dan allan.”

Pemikiran Trinitas Tidak Kafir?
Penulis berkata dalam hal.290:
“Tentang hukuman kafir bagi penganut ajaran Trinitas dan hukum haram bagi wanita muslim yang kawin dengan orang kafir, merupakan hal yang perlu disajikan kepada anak didik. Hanya saja, penyajian tersebut hendaknya dikaitkan dengan penjelasan bahwa penganut ajaran Trinitas tidak disebut “kafir” oleh al Qur’an melainkan disebut Ahli Kitab”….
Kami katakan:
Bagaimana dikatakan bahwa penganut ajaran Trinitas tidak disebut “kafir” oleh al Qur’an padahal Allah azza wa jalla telah berfirman dalam kitab-Nya (yang artinya):
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al Masih putra Maryam”, padahal al Masih (sendiri) berkata,”Hai Bani Israil, ibadahilah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-sekali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” [QS.al Ma’idah/5:72-73]
Imam Ibnu Katsir berkata,”Allah Ta’ala berfirman menghikayatkan tentang pengkafiran kelompok-kelompok dari Nasrani: Malakiyyah, Ya’kubiyyah, dan Nusthuriyyah, dari mereka yang mengatakan bahwa al Masih adalah Allah Ta’ala.” [Tafsir Ibnu Katsir:2/151]

Perempuan Boleh Berpolitik Praktis?
Penulis berkata di dalam hal.435 dari bukunya ini:
“Tentunya masih banyak lagi yang dapat dikemukakan menyangkut hak-hak kaum perempuan dalam berbagai bidang. Namun, kesimpulan akhir yang dapat ditarik bahwa mereka sebagaimana sabda Rasul adalah Syaqaiq Ar-Rijal (saudara-saudara sekandung kaum lelaki) sehingga kedudukannya serta hak-haknya hampir dikatakan sama.”
Di antara contoh hak-hak perempuan yang dikatakan sama oleh penulis dengan hak laki-laki adalah hak berpolitik praktis sebagaimana dia katakan dalam hal.426:
“Di sisi lain, al Qur’an juga mengajak umatnya (lelaki dan perempuan) untuk bermusyawarah, melakukannya: “Urusan mereka (selalu) diputuskan dengan musyawarah.” [QS. 42:38]
Ayat ini dijadikan pula dasar oleh banyak ulama untuk membuktikan adanya hak berpolitik bagi setiap laki-laki dan perempuan…kenyataan sejarah menunjukkan sekian banyak di antara kaum wanita yang terlibat di dalam soal-soal politik praktis.
Kami katakan:
Hadits wanita adalah Syaqo’iq ar Rijal (saudara-saudara sekandung kaum lelaki) adalah hadits yang shohih diriwayatkan oleh Abu Daawud di dalam Sunan-nya:237 dan dishohihkan Syaikh al Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud: 1/72.
Maksud hadits tersebut, bahwa wanita itu sama hukumnya dengan laki-laki baik dalam masalah perintah dan larangan, pahala dan dosa, serta yang lainya. Namun, yang harus disadari, bahwa Allah dan Rasul-Nya telah membedakan antara keduanya dalam beberapa masalah karena bagaimana pun juga wanita itu bukan laki-laki, sebagaimana dalam firman Allah azza wa jalla (yang artinya):
“…Dan laku-laki tidaklah seperti perempuan…” [QS.Ali Imran/3:36]
Syaikh Musthofa al ‘Adawi rahimahullah berkata, “Hadits di atas berlaku secara umum bagi setiap masalah yang tidak terdapat nash yang membedakan antara laki-laki dan wanita. Adapun kalau didapatkan sebuah nash yang membedakan antara laki-laki dan wanita maka wajib tunduk pada nash tersebut dan memberikan hukum tersendiri bagi laki-laki. Suatu misal, jangan ada seorang pun yang berkata bahwa persaksian seorang wanita sama dengan persaksian laki-laki berdasarkan hadits diatas, ini adalah pendapat yang sangat mungkar dan kedustaan. Jangan sampai ada yang mengatakan bahwa seorang wanita memiliki hak kepemimpinan sebagaimana seorang laki-laki, ini adalah pendapat yang dusta dan bathil. Sungguh Allah azza wa jalla telah berfirman (yang artinya):
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita…” [QS.an Nisa’/4:34]
Juga, jangan ada seorang pun yang berpendapat bahwa warisan wanita sama dengan warisan laki-laki. Ini adalah sebuah kesalahan yang nyata.” [Jami’ Ahkamin Nisa’:1/12]
Islam telah memuliakan wanita, menjaga hak-haknya dan mengarahkannya kepada perkara-perkara yang mengantarkan mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Islam memerintah wanita agar berhijab dari laki-laki yang bukan mahrom dan menjauh dari ikhtilath (campur baur) dengan laki-laki. Wanita dilarang melakukan safar (perjalanan jauh) kecuali bersama mahromnya dan dilakarang berkholwat (berduaan) dengan laki-laki yang bukan mahrom sebagaimana dalam hadits-hadits yang shohih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah azza wa jalla berfirman tentang wajibnya para wanita berhijab dari laki-laki yang bukan mahrom (yang artinya):
“…Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hti mereka…” [QS.al Ahzab/33:53]
Dan Allah azza wa jalla berfirman (yang artinya):
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”….[QS.al Ahzab/33:59]
Ayat diatas menunjukkan bahwa hukum hijab berlaku umum bagi Ummahatul Mukminin dan para wanita mukminat.
Adapun tentang masalah ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan wanita, Allah azza wa jalla berfirman ketika mengisahkan Nabi-Nya, Musa ‘alaihissalam (yang artinya):
“Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata,”Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu) ?” kedua wanita itu menjawab,”Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami) sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” Maka musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya….” [QS.al Qoshosh/28:23-24]
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,”Tidak syak lagi bahwa memberikan kesempatan bagi para wanita untuk bercampur baur dengan para lelaki adalah sumber semua bencana dan kejelekan. Ia adalah sebab terbesar dari turunnya adzab yang merata sebagaimana ia adalah sebab kerusakan perkara-perkara umum dan khusus. Bercampur baurnya laki-laki dan wanita adalah sebab banyaknya perbuatan-perbuatan keji dan perzinaan.” [Thuruq Hukmiyyah hal.281]
Membolehkan wanita berpolitik praktis akan merenggut wanita dari sebab-sebab kemuliaan dan mencampakkannya ke dalam jurang-jurang kehinaan karena dia diberi kebebasan sebebas-bebasnya, bepergian ke mana pun yang dia mau tanpa disertai mahrom, bercampur baur dengan laki-laki mana pun yang dia mau dan berbuat sekehendaknya tanpa ada yang menjaga dan mengawasinya!

Selamat Natal Menurut al Qur’an
Penulis, dalam hal.579-580, membawakan Surat Maryam ayat 23-30 kemudian mengatakan:
“Itu cuplikan kisah Natal dari al Qur’an. Dengan demikian, al Qur’an mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa Alaihissalam.
Kemudian penulis berkata dalam hal.583:
“Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan (ucapan “selamat Natal”) itu, bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Tidak juga salah mereka yang membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana dan tetap memelihara aqidahnya, lebih-lebih jika hal tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.”
Di akhir bahasan dalam hal.584 penulis mengamalkan apa yang dia serukan untuk mengucapkan selamat Natal:
“Salam sejahtera semoga tercurah kepada beliau, pada hari Natalnya, hari wafat, dan hari kebangkitannya nanti.”
Kami katakan:
Di antara pokok-pokok aqidah Islam adalah wajibnya memberikan wala’ (loyalitas) kepada setiap muslim dan baro’ (membenci dan memusuhi) orang-orang kafir, wajib memberikan wala’ kepada orang-orang yang bertauhid dan baro’ terhadap orang-orang musyrik. Inilah agama Ibrahim ‘alaihissalam yang kita semua diperintah Allah agar mengikutinya. Allah azza wa jalla berfirman (yang artinya):
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.”….[QS.al Mumtahanah/60:4]
Allah azza wa jalla mengharamkan wala’ kepada orang-orang kafir semuanya sebagaimana dalam firman-Nya (yang artinya):
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia…” [QS.al Mumtahanah/60:1]
Di antara bentuk-bentuk wala’ kepada orang-orang kafir yang diharamkan adalah ikut serta dalam peringatan-peringatan hari raya orang-orang kafir atau membantu pelaksanaannya atau menyampaikanucapan selamat hari raya kepada mereka atau menghadirinya.” [Lihat al Wala’ wal Baro’ kar.Syaikh Sholih al Fauzan hal.3-13]
MUI di dalam fatwanya tertanggal 1 Jumadil Awal 1401H/7 Maret 1981 memutuskan bahwa mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram (Sumber: situs resmi Majelis Ulama Indonesiawww.mui.or.id)
Lajnah Da’imah Saudi Arabia di dalam fatwanya (no.11168) menyatakan, “Tidak boleh seorang muslim memberi ucapan selamat kepada orang Nasrani pada hari raya mereka karena hal itu berarti tolong menolong di dalam dosa. Sungguh Allah telah melarang kita dari hal itu (yang artinya):
“….Dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” [QS.al Ma’idah/5:2]
Sebagaimana di dalam ucapan selamat itu terdapat kasih sayang kepada mereka, menuntut kecintaan serta menampakkan keridhoan kepada mereka, padahal mereka selalu menentang Allah dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya, menjadikan baginya istri dan anak, Allah azza wa jalla berfirman (yang artinya):
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak dan anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya.” [QS.al Mujadilah/58:22]

Penutup
Demikianlah di antara hal-hal yang bisa kami paparkan dari sebagian penjelasan terhadap sebagian syubhat-syubhat buku ini. Sebetulnya masih banyak hal lainnya yang belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat.
Semoga yang kami paparkan di atas bisa menjadi pelita bagi kita dari kesamaran syubhat-syubhat tersebut dan semoga Allah selalu menunjukkan kita kejalan-Nya yang lurus dan dijauhkan dari semua jalan-jalan kesesatan. Aamiin. Wallahu A’lam bish showab.
Sumber : Diketik ulang dari Majalah al Furqon Edisi 07 Tahun kedelapan, Shofar 1430H/Feb 2009 Hal.39-42

———————————————————————————————————————————————-
Buku “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan”

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Kajian Atas Konsep Ajaran dan Pemikiran. Secara global buku ini adalah salah satu buku yang mengkampanyekan penyatuan antara agama Islam dan agama Syi’ah. Buku ini asalnya adalah makalah yang disampaikan oleh penulisnya dalam diskusi di Masjid al-Aqsha Ujungpandang (Makassar) Tabun 1980, makalah ini belum sempat termuat di dalam kumpulan-kumpulan makalah penulis yang berjudul Membumikan Al-Qur’an.
Dalam pengantar buku ini penulis menyatakan keberatan jika dituduh sebagai seorang yang beraliran Syi’ah dan mengatakan:
Sebenarnya keberatan penulis atas tuduhan itu bukan karena menganggap aliran Syiah sesat dan menyesatkan, tetapi karena dugaan itu tidak benar.
Hanya, setelah kami telaah buku ini ternyata di dalamnya penulis banyak mempropagandakan pemikiran-pemikiran Syi’ah dan melontarkan syubhat-syubhat yang membahayakan aqidah dan pemahaman seorang muslim.
Karena itulah, insya Alloh dalam pembahasan kali ini kami berusaha melakukan telaah kritis terhadap buku ini sebagai pembelaan terhadap manhaj yang haq dan nasihat kepada kaum muslimin secara umum.

Penulis dan Penerbit Buku Ini
Buku ini ditulis Prof. Dr. Muhammad Quraisy Syihab, MA dan diterbitkan Penerbit Lentera Hati Ciputat Tangerang cetakan pertama Maret 2007 MI Robi’ul Awal 1428 H.

Tikaman Penulis Terhadap Para sahabat Nabi
1. Penulis menyatakan bahwa Umar bin Khoththob adalah seorang sahabat Nabi yang daya ingatnya menyangkut ayat-ayat al-Qur’an tidak terlalu akurat (hlm. 7).
2. Penulis berkata di dalam hlm. 33:
Lalu perselisihan antara beliau (Ali bin Abi Thalib) dengan Mu’awiyah dengan dalih agar para pembunuh Utsman yang ketika itu belum dikenal ditangkap dan dijatuhi hukuman -walau sebelumnya Mu’awiyah membiarkan khalifah III itu terkepung. Mu’awiyah -menurut banyak pakar- hanya menjadikan tuntutan tersebut sebagai dalih agenda politik untuk berkuasa, melebihi kekuasaannya ketika itu sebagai gubernur wilayah Syam yang berkedudukan di Damaskus.
Dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan miring yang lainnya dari penulis kepada para sahabat.
Kami katakan: Ini adalah celaan kepada dua orang sahabat yang mulia. Dengan demikian penulis telah renyelisihi pokok yang agung yang disepakati oleh Ahli Sunnah, yaitu wajibnya loyal kepada para sahabat Rosululloh mencintai mereka dengan tidak berlebih-lebihan dalam mencintai seorang dari mereka, dan tidak menvebut mereka dengan selain kebaikan:
Al-Imam al-Khothib al-Baghdadi menyebutkan ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan kedudukan dan keutamaan para sahabat, di antaranya:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang MuhajirIn dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surge-surga yang ntengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. at-Taubah [9]: 100)
Kemudian beliau berkata: “Hadits-hadits yang semakna dengan hal ini banyak sekali, semuanya sesuai dengan apa yang datang dalam nash al-Qur’an, yang semuanya menunjukkan kesucian para sahabat dan pemastian atas keadilan mereka, mereka tidak butuh rekomendasi dari siapa pun setelah rekomendasi Alloh kepada mereka, Alloh Zat Yang Maha Mengetahui isi hati mereka … Ini adalah madzhab seluruh ulama dan fuqoha yang perkataannya dianggap (diakui, Red).” (al-Kifayah hlm. 96)
Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah berkata: “Diantara pokok-pokok Ahli Sunnah adalah selamatnya hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Rosululloh sebagaimana penyifatan Alloh dalam firman-Nya:
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo’a: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr [59]: 10)
Sikap Ahli Sunnah ini adalah merupakan ketaatan kepada Rosululloh terhadap sabdanya:
“Janganlah kalian mencaci para sahabatku, demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya seorang di antara kalian menginfaqkan emas sebesar Gunung Uhud tidaklah itu mencapai satu mud infaq seorang dari mereka dan tidak juga mencapai separuhnya.” (Muttafaq’alaih, al-Bukhori: 3673 dan Muslim: 2540)
Maka Ahli Sunnah menerima apa saja yang yang datang dalam Kitab, Sunnah, dan ijma’ tentang keutamaan-keutamaan dan tingkatan-tingkatan mereka. Ahli Sunnah berlepas diri dari cara orang-orang Rofidhoh yang membenci dan mencaci para sahabat, dan berlepas diri dari cara orang-orang Nawashib yang menyakiti ahlulbait dengan perkataan atau perbuatan.
Ahli Sunnah menahan diri dari apa yang terjadi di antara sahabat, mereka mengatakan bahwa atsar-atsar yang datang tentang kejelekan-kejelekan para sahabat di antaranya ada yang dusta, ada yang telah ditambahi atau dikurangi, dan adapun yang shohih darinya maka para sahabat memiliki uzur (keringanan) karena mereka adalah mujtahid yang adakalanya menepati kebenaran dan adakalanya keliru dalam ijtihadnya.
Bersamaan dengan itu Ahli Sunnah tidak meyakini bahwa tiap-tiap sahabat terjaga dari dosa-dosa yang kecil dan besar, bahkan secara umum mereka pernah berbuat dosa. Akan tetapi, para sahabat memiliki senioritas dan keutamaan-keutamaan yang bisa menutupi kesalahan-kesalahan yang muncul pada mereka. Kemudian jika telah muncul kesalahan seorang dari mereka, bisa jadi dia telah bertaubat atau melakukan kebaikan yang bisa menghapusnya, atau dia diampuni dengan keutamaan mereka atau dengan syafa’at Nabi kepada mereka, atau dia diuji di dunia dengan ujian yang bisa menghapus kesalahannya.
Barang siapa yang menelusuri siroh para sahabat dengan ilmu, bashiroh, dan keutamaan-keutamaan yang Alloh anugerahkan kepada mereka akan mengetahui dengan yakin bahwa para sahabat adalah makhluk terbaik sesudah para nabi. Tidak ada satu pun yang telah dan akan menyamai mereka, mereka adalah manusia-manusia pilihan dari umat ini yang umat ini adalah sebaik-baik umat dan yang paling mulia di sisi Alloh. (Lihat Aqidah Wa-sithiyyah hlm. 142-151)
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa ciri khas agama Syi’ah yang batil adalah celaan mereka terhadap para sahabat Nabi!

Kedustaan Atas Imam Abu Hanifah
Di dalam hlm. 55 penulis menukil pernyataan Abdul Halim Mahmud yang mengatakan bahwa Imam Abu Hanifah membai’at Muhammad bin Abdulloh bin al-Hasan bin al-Hasan bin Ali, dan menjadi salah seorang anggota kelompok/syi’ahnya hingga akhimya ia diadukan kepada Al-Manshur – penguasa dinasti Abbasiyyah – sehingga ia dipenjarakan dan mati dalam penjara.
Kami katakan: Ini adalah kedustaan yang nyata atas al-Imam Abu Hanifah. Beliau tidak pernah membai’at Muhammad al-Alawi dan juga tidak pernah memberontak kepada kholifah al-Manshur sebagaimana bisa dilihat di dalam kitab-kitab yang memuat biografi beliau seperti Tarikh Baghdad kar. al-Khothib al-Baghdadi: 13/323-454, Siyar A’lamin Nubala kar. adz-Dzahabi: 6/390-403, dan Thobaqoh Hanafiyyah kar. Abdul Qodir bin Abil Wafa’ al-Quro-syi: 1/26-32.
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa ciri khas agama Syi’ah yang batil adalah kedustaan mereka dengan nama taqiyah!

Siapakah Ahli Sunnah?
Penulis mengaku kebingungan menentukan siapa yang disebut Ahli Sunnah, padahal bukunya ini hendak mengkompromikan antara Ahli Sunnah dan Syi’ahl Penulis berkata di dalam hlm. 57:
Penulis menemukan kesukaran untuk menjelaskan siapa saja yang dinamai Ahli Sunnah dalam pengertian terminologi, karena banyaknya kelompok-kelompok yang termasuk di dalamnya.
Kemudian dalam hlm. 58-59 penulis menye-butkan beberapa nukilan tentang pengertian Ahli Sunnah dari beberapa tokoh yang disetujui oleh penulis karena di akhir nukilan-nukilan penulis mengatakan:
Untuk sementara, apa yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh Sunni tersebut dapat kita jadikan dasar dalam mengenal siapa Ahli Sunnah.
Di antara nukilan-nukilan tersebut adalah:
1. Ahli Sunnah muncul sebagai reaksi paham Mu’tazilah Washil bin Atha’ (meninggal tahun 131 H).
2. Maturidiyyah dan Asy’ariyyah dimasukkan dalam kelompok Ahli Sunnah.
3. Ahli Sunnah adalah kaum muslimin yag mengikuti aliran Asy’ari di dalam aqidah dan keempat imam mazhab -Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Hanafi- dalam urusan syari’ah.
Kami katakan:
Mengidentikkan Ahli Sunnah dengan Asy-’ariyyah adalah perkataan yang batil karena Asy-’ariyyah bertentangan dengan Ahli Sunnah dalam banyak hal seperti:
1. Mashdar talaqqi Ahli Sunnah adalah al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’, dan qiyas, sedangkan mashdar talaqqi Asy’ariyyah adalah akal.
Fakhrur Rozi -seorang tokoh Asy’ariyyah- berkata: “Akal adalah landasan naql (dalil syar’i), maka mencela akal untuk membenarkan naql akan membawa pencelaan kepada akal dan naql sekaligus, dan ini adalah batill” (Asasut Taqdis hlm. 221)
Adhuddin al-Iijy -seorang tokoh Asy’ariyyah- berkata: “Mendahulukan naql di atas akal adalah bathil….” (Mawaqif Fi IImil Kalam hlm. 40)
2. Tauhid menurut Ahli Sunnah adalah tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat,sedangkan tauhid menurut Asy’ariyyah adalah menafikan sekutu atau bilangan serta menafikan bagian atau susunan, karena itulah Asy’ariyyah menolak sifat wajah, tangan, mata, dan yang lainnya bagi Alloh dengan alasan bahwa hal itu (menurut mereka) menunjukkan susunan dan bagian. Adapun Ahli Sunnah mengimani semua sifat Alloh tanpa ta’thil, tamtsil, dan takyif (lihat al-Inshaf kar al-Baqilani -seorang tokoh Asy’ariyyah-hlm. 22).
3. Iman menurut Ahli Sunnah adalah pengakuan hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan. Sedangkan menurut Asy’ariyyah sekadar pembenaran hati (lihat al-Inshaf kar. al-Baqilani hlm. 55).
4. Ahli Sunnah mengatakan bahwa al-Qur’an adalah Kalamulloh dan bukan makhluk, sedangkan Asy’ariyyah mengatakan bahwa al-Qur’an adalah sebuah makna yang dipahami Jibril dan terpisah dari Zat Alloh (lihat al-Inshaf kar. al-Bagilani hlm. 96-97).
Al-Imam Ibnu Khuwaiz Mindad -seorang imam madzhab Maliki- berkata: “Ahlul ahwa’ menurut Malik dan seluruh pengikutnya adalah ahlul kalam. Maka setiap ahli kalam adalah ahlul ahwa’ dan (ahlul) bida’, baik dia bermadzhabkan Asy’ariyyah atau bukan.” (Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlihi: 2/117)
Al-Imam Abul Abbas bin Juraij-seorang imam madzhab Syafi’i- berkata: “Kami tidak setuju dengan takwil Mu’tazilah, Asy’ariyyah, Jahmiyyah, Mulhidah, Mujassimah, Musyabbihah, Karomiyyah, dan Mukayyifah.” (Ijtima’ Juyusy Islamiyyah hlm. 62)
Al-Imam Ahmad bin Hanbal membid’ahkan Ibnu Kullab yang merupakan pendiri sebenarnya madzhab Asy’ariyyah (lihat bahasan Madzhab Asy’ariyyah Ahlu Sunnahkah? dalam Majalah AL FURQON Th. Ke-5 Edisi 7 Rubrik Aqidah).
Kemudian mengidentikkan Ahli Sunnah dengan Maturidiyyah juga merupakan perkataan yang batil karena Maturidiyyah bertentangan dengan Ahli Sunnah dalam banyak hal seperti:
1. Mashdar talaqqi Ahli Sunnah adalah al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’, dan qiyas, sedangkan mashdar talaqqi Maturidiyyah adalah akal.
2. Maturidiyyah mengatakan adanya majaz di dalam lughoh, al-Qur’an, dan al-Hadits.
3. Maturidiyyah mentakwil dan men-tafulidh sifat sifat Alloh.
4. Maturidiyyah menolak berargumen dengan ha¬dits ahad di ttalam aqidah.
5. Maturidiyyah mengimani sebagian sifat dan menolak sebagian sifat yang lainnya.
6. Maturidiyvah mengatakan bahwa Kalamulloh adalah Kalam Nafsi tanpa huruf dan tanpa su¬ara.
7. Maturidiyyah menolak bertambah dan berkurangnya keimanan. (Lihat al-Maturidiytlah Dirosah wa Taqwiman hlm. 514-517 dan Firoq Mu’ashiroh hlm. 1081-1093)
Ahli Sunnah tidaklah muncul sebagai reaksi atas paham Mu’tazilah Washil bin Atho’. Yang benar, nama “Ahli Sunnah” adalah nama yang tidak pernah lepas dari perjalanan sejarah umat Islam, sesuai dengan perintah yang tegas dari Rosululloh agar selalu berpegang teguh pada Sunnahnya dan agar selalu menjauhi segala kebid’ahan yang datang sesudahnya sebagaimana dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah
“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku, dan waspadalah kalian terliadap perkara-perkara yang baru karna setiap perkara yang yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesa-an.” (Hadits Shohih Riwayat Ahmad dan Ashabus Sunan)
Menurut riwayat yang shohih istilah Ahli Sunnah muncul zaman sahabat sebagaimana dikatakan oleh Muhammad bin Sirin seorang tabi’in yang wafat tahun 110 H:
“Dahulu mereka tidak menanyakan tentang sanad, ketika terjadi fitnah, maka mereka berkata: ‘Sebutkanlah Para perawi kalian kepada kaini.’ Maka dilihatlah kepada Ahli Sunnah dan diambil hadits mereka, dan dilihat para ahli bid’ah dan tidak diambil hadits mereka.” (Muqoddimah Shohih Muslim 1/34)
Yang dimaksud fitnah adalah terbunuhnya Kholifah Utsman bin Affan sebagaimana dikatakan oleh Yahya bin Sa’id al-Anshori dalam Shohih ai-Bukhori: 4/1475.
Kemudian istilah Ahlus Sunnah ini diikuti oleh kebanyakan ulama Salaf rohimahumulloh, di antaranya:
1. Hasan al-Bashri (wafat 110 H), beliau berkata: “Sesungguhnya Ahli Sunnah adalah yang paling sedikit dari manusia pada zaman yang telah lewat, dan mereka paling sedikit dari manusia pada zaman yang tersisa. Mereka adalah orang-orang yang tidak ikut-ikutan dengan orang-orang yang bermewah-mewahan dan tidak juga (ikut-ikutan) dengan ahli bid’ah dalam kebid’ahan mereka, dan mereka sabar di dalam menjalankan Sunnah hingga bertemu Robb mereka.” (Sunan ad-Darimi: 1/83)
2. Ayyub as-Sikhtiyani (wafat 131 11), beliau berkata: “Apabila aku dikabari tentang meninggalnya seorang dari Ahlus Sunnah seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah oleh al-Lalika’i: 1/59-60)
3. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H), beliau berkata dalam mugoddimah kitabnya, as-Sunnah: “Inilah madzhab Ahlul Ilmi, Ashabul Atsar, dan AhIus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rosul dan para sahabatnya semenjak zaman para sahabat semoga Alloh meridhoi mereka semua- hingga pada masa sekarang ini….”
Dengan nukilan-nukilan di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa lafazh “Ahlus Sunnah” sudah dikenal sejak zaman sahabat. Istilah Ahlus Sunnah merupakan istilah yang dipakai sebagai lawan Ahlul Bid’ah. Para ulama Ahlus Sunnah menulis penjelasan tentang aqidah Ahlus Sunnah agar umat memahami aqidah yang benar dan untuk membedakan antara mereka dengan Ahlu Bid’ah. Sebagaimana telah dilakukan oleh imam Ahmad bin Han-bal, Imam al-Barbahari, Imam ath-Thohawi, serta yang lainnya.

Abdulloh bin Saba’ tokoh Fiktif?
Penulis berkata dalam hlm. 65:
Tidak sedikit pakar menilai bahwa pribadi Abdullah bin Saba’ sama sekali tidak pernah ada. la adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syi’ah. la (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan.
Kami katakan: Klaim yang mengatakan bahwa Abdulloh bin Saba’ adalah tokoh fiktif selalu diusung oleh orang Syi’ah zaman ini dan orang-orang orientalis agar mereka bisa diterima di tengah-tengah masyarakat. Dakwaan seperti ini bagaikan orang yang mengingkari cahaya matahari di siang hari yang ccrah. Marilah kita lihat pengakuan orang Syi’ah terdahulu terhadap keberadaan Abdulloh bin Saba’ sebagai bukti yang konkrit atas keberadaannya:
1. An-Nasyi al-Akbar (meninggal 293 H) mencantumkan tentang Ibnu Saba’ dan golongan as-Saba’iyyah yang teksnya: “Dan suatu golongan yang mereka mendakwahkan bahwa Ali masih hidup dan tidak pemah mati, dan ia tidak akan mati sampai ia menghalau (mengumpulkan) orang Arab dengan tongkatnya, orang ini adalah as-Saba’iyyah, pengikut Abdulloh bin Saba’. Dan adalah Abdulloh bin Saba’ seorang laki-laki dari penduduk Sana, seorang Yahudi, telah masuk Islam Iewat tangan Ali, dan bermukim di al-Madain….” (Masa’ilul lmamah wa Mugfatlwfaf mini! Kitabil Ausath Fil Maqolat – tahqiq Yusuf Fan As, Beirut, 1971, hlm. 22, 23)

2. Al-Qummi (301 H) menyebutkan: “Sesungguhnya Abdulloh bin Saba’ adalah orang yang pertama sekali menampakkan celaan atas Abu Bakar, Umar, dan Utsman, serta para sahabat, dan berlepas diri dari mereka. Dan ia mendakwakan sesungguhnya Ali-lah yang memerintahkannya akan hal itu. Dan sesungguhnya taqiyah tidak boleh. Lalu Ali diberitahukan, lantas Ali pun menanyakan kepadanya tentang hal itu maka ia mengakuinya. Dan Ali memerintah untuk membunuhnya, lalu orang-orang berteriak dari setiap penjuru: “Wahai Amirul Mukminin apakah anda akan membunuh seorang yang mengajak kepada mencintai kalian Ahli Bait, dan mengajak kepada setia kepadamu dan berlepas diri dari musuh-musuhmu, maka biarkan dia pergi ke al-Madain.” (al Maqolat wal Firoq hlm. 20. Diedit dan dikomentari serta diberi kata pengantar oleh Dr. Muhammad Jawad Masykur, diterbitkan oleh Mu’assasah Mathbu’ati Athani, Teheran, 1963)

3. An-Naubakhti (310 H) setuju dengan al-Qummi dalam memperkuat berita-berita tentang Abdulloh bin Saba’, lalu ia menyebutkan satu contoh, yaitu bahwasanya tatkala berita kematian Ali sampai kepada Abdulloh bin Saba’ di Madain, maka ia berkata kepada orang yang membawa berita itu: “Kamu telah berdusta. Kalau seandainya kamu datang kepada kami dengan otaknya sebanyak tujuh puluh kantong dan kamu mendatangkan tujuh puluh saksi atas kematiannya, maka sungguh kami telah mengetahui sesungguhnya dia belum mati, dan tidak terbunuh, dan tidak akan mati sampai ia memiliki bumi.” (Firoqus Syi’ah kar. Abu Muhammad al-Hasan bin Musa an-Naubakhti hlm. 23, ditashhih oleh H. Raiter, Istanbul, Perc. ad-Daulah, 1931)
Ini adalah sebagian kecil dari nash-nash yang dikandung oleh buku-buku Syi’ah dan riwayat¬riwayat mereka tentang Abdulloh bin Saba’. Boleh dikatakan bahwa nash-nash itu adalah dokumen-dokumen tertulis yang membantah orang-orang dari kalangan Syi’ah belakangan ini yang berusaha untuk mengingkari keberadaan Abdulloh bin Saba’ dan meragukan kabar beritanya.
Demikian juga para ulama jarh wa ta’dil sepakat menyebut biografi Abdulloh bin Saba’, seperti: Ibnu Hibban dalam al-Majruhin: 1/208 dan 2/253, adz-Dzahabi dalam al-Mughni Fi Dhu’afa: 1/399 dan Mizanul I’tidal: 2/426, dan Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan: 3/290.
Dengan demikian, dapatlah kita pastikan bahwa Abdulloh bin Saba’ bukanlah tokoh fiktif melainkan tokoh yang ada realitanya, dan terbukti ia memang ada. Hal itu telah disaksikan sendiri oleh buku-buku Syi’ah terdahulu yang menjadi pegangan mereka. Dan sesungguhnya orang yang berusaha mengaburkan dan mengingkari keberadaan Abdulloh bin Saba’ sama dengan orang yang mengingkari cahaya matahari pada siang hari yang terang benderang dan sama dengan orang yang mengingkari keberadaan Khomeini celaka yang telah meninggal. (Lihat Abdulloh bin Saba’ Haqiqoh Laa Khoyalah kar. Dr. Sa’di al-Hasyimi)

Penutup

Inilah di antara hal-hal yang bisa kami paparkan sebagai penjelasan terhadap sebagian syubhat-syubhat buku ini. Sebetulnya masih banyak hal lainnya belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat.
Dan kesimpulan yang bisa diambil, penulis dalam bukunya ini telah melontarkan celaan terhadap para sahabat Nabi, membuat kedustaan atas Imam Abu Hanifah, dan ‘kurang paham’ tentang hakikat Ahli Sunnah dan Syi’ah-padahal dia hendak mengkompromikan antara Sunnah dan Syi’ah serta banyak mengusung pemikiran-pemikiran Syi’ah. Semoga sedikit yang kami paparkan di atas bisa menjadi pelita bagi kita dari kesamaran syubhat-syubhat buku ini dan semoga Alloh selalu menunjukkan kita ke jalan-Nya yang lurus dan menjauhkan kita dari semua jalan-jalan kesesatan. Wallohu A’lam bishshowab, Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: